images

Kembali Beprestasi di Awala 2011, IES lAMP Lampu Cerdas Nan Hemat Energi

Tim Simulasi kembali menorehkan prestasi gemilang dalam kontes inovasi nasional MFEST ITB yang bertema persoalan teknologi dan lingkungan. Juara kedua diraih tim asal Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dengan menyingkirkan tim Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang harus puas sebagai juara ketiga. Sementara itu, juara pertama diraih tim tuan rumah, ITB.

“Ketiganya unggul dalam konsep teknik dasar teknologi yang dibuat, ramah lingkungan, dan terapannya berpotensi bisnis secara ekonomi dan berdampak luas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Nomo Ruswanto, juri yang berasal dari Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB.

Tim yang beranggotakan Barikly Robby, Samuel Starry Yanuar, dan Erik Tridianto membuat Innovative, Efficient, and Smart (IES) Lamp dari kumpulan 25 lampu LED (light-emitting diode). Dengan program fuzzy logic dan sensor cahaya, lampu itu tak hanya sekedar penerang, tapi juga bisa otomatis mati atau menyala dan diatur tingkat terang redup cahayanya. Karya kreatif tiga mahasiswa ini berhasil memukau dewan juri yang terdiri dari dosen Teknik Mesin ITB Djoko Suharto, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Imam Damar Djati , Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB Nomo Ruswanto, dan Lina Rahayu Suardi dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat.

Latar belakang pembuatan lampu IES, kata Robby, karena konsumsi daya lampu yang ada masih kurang efisien, keandalannya kurang baik, masih ada zat-zat berbahaya dalam lampu biasa, dan pemborosan energi listrik akibat pemakaian lampu yang berlebihan. Mereka menawarkan lampu baru yang lebih andal, hemat energi, aman untuk kesehatan, dan memasang sistem kendali otomatis. Selain itu, mereka memodifikasi agar lampu mempunyai empat fungsi penerangan dengan sensor cahaya matahari.

Mode auto-dimmer berupa pengaturan otomatis pencahayaan ruangan agar efisien. Saat intensitas cahaya apa pun di suatu ruangan sangat gelap, lampu itu akan bercahaya sangat terang, demikian juga kondisi sebaliknya hingga nyala lampu padam sendiri. Adapun mode kedua, night detection, memakai metode logika biner untuk mengkondisikan sensor terhadap intensitas pencahayaan matahari. Jika dipakai sebagai lampu jalan atau di taman, lampu akan menyala sendiri begitu matahari tenggelam, dan mati saat surya terbit. Sedangkan mode ketiga, scheduling, memungkinkan pengguna di kamar tidur mengatur waktu mati nyala lampu. Mode keempat, manual dimmer, bisa dipakai untuk mematikan beberapa lampu led untuk mengurangi terang.

Lampu yang akan segera mereka patenkan itu diklaim mampu menghemat energi dan biaya listrik hingga 66 % dibanding lampu fluorescent atau neon, dan 92 % lampu incandescent alias bohlam. Prototipe lampu itu sanggup menyala hingga 6 watt. Biaya pembuatan untuk riset awal lampu IES yang dilakukan di laboratorium SSTL Teknik Elektro ITS hanya sebesar Rp 147 ribu.

Ketiga mahasiswa ini secara kompak berkata, “berinovasilah terus untuk bangsa dan negara!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *